ARTIKEL UNIK

Kata Psikolog soal Anak 15 Tahun Berakting Sebagai Istri

Tahun Berakting Sebagai Istri

www.legendaqqlounge.comSinetron Suara Hati Istri ramai menjadi perbincangan karena menampilkan peran istri bernama Zahra yang dimainkan oleh gadis berusia 15 tahun.

Beberapa netizen mengkritik keras sinetron tersebut karena dianggap bisa berdampak buruk pada tumbuh kembang anak yang memerankannya.

Menanggapi hal tersebut, psikolog klinis Nuzulia Rahma Tristinarum mengatakan

seharusnya setiap orang yang terlibat memastikan bahwa peran yang dimainkan cocok dengan usia anak.

“Peran tersebut bisa saja mempengaruhi tumbuh kembangnya, terutama pembentukan persepsi, mindset, atau keyakinan tertentu,”

kata psikolog yang kerap disapa Rahma, saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (2/6).

“Akan lebih baik jika peran dilakukan sesuai usianya saja untuk menghindari segala konsekuensi yang mungkin akan timbul di kemudian hari,” sambungnya.

Lebih lanjut, dia juga mengatakan bahwa peran yang dimainkan oleh anak sepatutnya tidak menunjukkan adegan kekerasan atau adegan seksual.

Selain itu, tim produksi yang terlibat juga harus menjamin perlindungan terhadap anak dan mempertimbangkan konsekuensi yang mungkin didapat anak ke depannya.

Bagaimana sebenarnya efek bermain peran/berakting pada anak?

Bermain peran baik pada usia anak maupun remaja sebenarnya baik untuk tumbuh kembangnya.

Sebab saat bermain peran, seseorang akan belajar mengekspresikan emosi, belajar bersosialisasi dengan sebayanya, serta mulai terbiasa mengambil keputusan.

“Sebetulnya banyak baiknya [bermain peran] karena mereka banyak belajar dari situ.

Pada anak kecil dan remaja dia belajar mengekspresikan emosi dan bersosialisasi dengan teman-temannya itu kan sisi manusiawi kita,” kata Psikolog Anak Erfiane Cicillia saat dihubungi secara terpisah.

Berakting pada usia apa pun baik untuk perkembangan emosi, menumbuhkan rasa empati, hingga membantu otak terbiasa memutuskan sesuatu.

Misalnya ketika memutuskan sebuah peran maka fungsi korteks dalam otak akan bekerja.

Selain itu, bermain peran juga baik untuk melatih anak bersosialisasi dengan orang lain.

Ia akan berusaha mendapat peran yang ia inginkan, sehingga anak akan belajar mengutarakan pendapat di depan umum.

“Kalau anak itu di tahap perkembangan di aspek sosial dan emosi. Mereka mengembangkan imajinasi, kreativitas, belajar bahasa dan emosi,” ujarnya.

Perlu bimbingan

Bermain peran memang dapat membentuk tumbuh kembang anak dan remaja.

Namun peran-peran tertentu – seperti karakter Zahra di sinetron Suara Hati Istri – justru bisa berdampak buruk.

Oleh karena itu, bermain peran pada anak dan remaja idealnya mendapatkan bimbingan dari orang dewasa.

Erfiane menjelaskan, pada usia anak, mereka belum bisa membedakan mana realita dan mana kepura-puraan.

Sehingga sering kali anak sudah mengecap bahwa temannya yang juga lawan mainnya itu punya sikap buruk.

Hal yang sama juga berlaku untuk remaja. Meskipun pada usia 14-16 tahun, menurut Erfiane fungsi kognitifnya sudah mulai bekerja seperti orang dewasa.

Seorang remaja memang bisa memahami mana realita dan mana kepura-puraan, namun ia masih harus dibantu untuk menemukan konteks, makna, dari peran yang didalami.

“Kalau anak-anak abis main peran selayaknya ada orang dewasa datang membantu menyimpulkan perannya, kalau pada remaja, perlu ada bimbingan untuk mendapatkan konteks dari perannya,” ucapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *